AJARLAH KAMI BERTUMBUH : SUATU REFLEKSI ATAS SURAT 1 KORINTUS

Oleh :

Dr. Krets Mamondole, M.Mar., M.Th.

(Dosen Tetap STT Bethesda)

 

 

  1. Pendahuluan

Jemaat korintus merupakan salah satu jemaat paling bermasalah yang pernah dilayani oleh Rasul Paulus. perpecahan kesombongan rohani, keduniawian ketidak dewawsaan rohani, imoralitas, saling menghakimi antara saudara seiman, dosa dalam perjamuan Tuhan, penyalahgunaan karunia dan menyusupnya ajaran sesat tantang kebangkitaan adalah bebeprapa dari sekian banyak permasalahan yang dapat ditemukan saat membaca surat 1Koorintus.

Namun didalam kedaulatan-Nya yang tak terselami dan hikmat-Nya yang melampaui segala akal, Allah memakai kondisi yang tiadak menggembirakan ini munyatakan pengajaran yang begitu berharga karena Paulus sadar pelayanannya karena kehendak Tuhan dan juga karena’ kesetiaan Allah’.

Kesetiaan Allah itu, mendorong Paulus dalam keseluruhan hidupnya berusaha menghidupi panggilan Allah; Menurut Paulus melayami Tuhan perlu dilakukan dengan mengingat waktu yang sangat mendesak, waktu yang singkat mendorong orang percaya untuk bekerja segiat-giatnya. Dalam waktu singkat itu, orang percaya patut  “menghidupi panggilan Allah” dengan tetap dan terus melakukan panggilan pelayanan yang diamanatkan kepada orang percaya, dalam hubungan yang kuat dengan Kristus.

Paulus mengatakan, yang terpenting adalah hubungan dengan kristus, hal-hal lain, seperti status sosial, adalah tanda-tanda, lahiriah yang tidak penting, dihadapan Tuhan semuanya tidak penting, sebab yang utama adalah hubungan seorang dengan Yesus Kristus, Jikalau orang percaya adalah hamba, orang percaya tetap menjadi hamba yang menaati hukum Tuhan dalam menghadapi panggilan Allah.

 

Pada bagian pertama surat Paulus kepada jemaat Korintus ini, sesungguhnya orang percaya (pembaca) ditantang oleh sebuah pertanyaan : Apakah orang percaya mempunyai semangat yang sama seperti Paulus? Paulus tidak kendur dalam melayani jemaat korintus, meskipun jemaat ini sudah tidak lagi menampakan cara hidup yang kristiani. Menjawab pertanyaan itu tdak terlalu sulit, tetapi juga tidak terlalu mudah.Oleh     sebab itu mencermati sikap Paulus melalui suratnya, yaitu; kepada jemaat di Korintus, yaitu mereka yang jemaat korintus  “rusak” hal itu membuat Paulus mundur dari tanggung jawab kehambaannya membuat semangat pelayanan dan kesetiaanya melayani jemaat Tuhan tidak berubah. Pada bagian 1 buku ini tentang kesetian Allah sehingga menghadapi panggilan Allah, penulis mengajarkan pembaca untuk memahami dan mengerti pikiran dan pandangan Paulus terhadap pelayanannya terhadap jemaat korintus. Kesetian kepada Allah, bagi Paulus adalah kesetiaan yang diuji oleh “pelayanan pada panggilan kerasulannya” itu sebabnya Paulus memulai suratnya ini dengan menegaskan panggilan kerasulannya. “dari Paulus yang oleh kehendak Allah dipanggil menjadi rasul Yesus Kristus ..”(ayat 1),ini merupakan prisip yang penting:pamggilan pelayanan orang percaya berasal dari Tuhan dan inilah sebenarnya memberikan kekuatan kepada orang percaya dalam dalam menghadapi berbgai kesulitan dalam pelayanan, tidak ada pelayanan tanpa kesulitan. Pelayanan yang disertai Tuhan pun pasti memiliki banyak kesulitan, baik dari setan, orang lain bahkan diri sendiri. Demikian juga Paulus, dia mengalami kesulitan karena sebagian jemaat dikorintus mempertanyakan kerasulannya, mereka tidak percaya, Paulus tetap setia. Namun walau tidak percaya, Paulus tetap setia melayani jemaat yang seperti itu.Darimana Paulus mendapatkan seperti itu? kekuatan itu terdapat dari kejelasan dan keyakinan bahwa di dipangil oleh kehendak Allah telah menempatkan dia dalam posisi itu, bukan karena ambisi pribadi. Walaupun berat, Paulus tetap menyatakan diri sebagai pelayan Tuhan yanh setia,telah dikuduskan di dalam Yesus Kristus untuk ”menghadapi panggilan Allah” melalui seluruh aspek kehidupan sebagai ”pelayan kudus” ataupun selaku anggota jemaat.

 

2. Kebebasan dalam Kristus dan kasih (1 Korintus 8-13)

                       Dalam bagian ini dengan sangat menarik Paulus mengawalinya engan menyatakan penguetahuan dan kasih ”tetapi janganlah, supaya kebebasanmu ini juga menjadi batu sandungan bagi meraka yang lamah,karena apabilah orang melihat engkau yang mempunyai ”pengetahuan” sedang duduk makan di dalam kuil persembahan berhala?, bukankah orang yang lemah hati nuraninya dikuatkan untuk makan daging (1 Kor 8:9-10).

Pengetahuan yang tanpa kasih akan membuat orang percaya bermegah diri karena pengetahuan pada Waktunya bersifat membangun diri sendiri. Orang percaya belajar dan yang menjadi tahu adalah diri orang percaya sendiri dan jika hal ini tidak disertai dengan kasih maka pengetahuan akan cendereung membuat orang percaya menghina orang yang kurang tahu sebagi orang yang lebih rendah.Itulsh salah satu ciri khas hidup yang berpusat pada paulus  melalui hal ini dengan kasih,karena kasih selalu membangun, memperhatikan dan mempertimbangkan bahwa tidak selalu membangun, memperhatikan dan mempertimbangkan orang lain.Paulus mengajarkan bahwa tidak selalu mudah untuk dapat mengatur segala yang dikuduskan dalam Yesus Kristus dan yang dipanggil menjadi orang-orang kudus, dengan semua orang disegala tempat (1kor 1:2). Paulus menyebut orang-orang korintus sebagai orang-orang kudus walaupun banyak dari mereka yang tidak mencerminkan kehidupan orang kudus. Paulus tetap menyebut mereka “orang-orang kudus” karena mereka adalah orang-orang yang dikuduskan dalam Yesus Kristus. Pandangan Paulus tersebut sebenarnya menjadi cermin bagi”setiap pelayan ditengah-tengah jemaat gereja” sebab dalam kehidupan pelayanan, ada “pelayan khusus” yang membiarkan dan masa bodoh terhadap perilaku anggota jemaat dan atau jamaat tertentu karena sikap mereka yang sulit diatur dan selalu menjadi biang kericuhan dalam kehidupan persekutuan jemaat. Bila dilihat pada teladan pandangan Paulus, jelas”bahwa sikap pelayan khusus”seperti tidak sejalan dengan kesetiaan Allah kepada setiap orang yang telah dikuduskan dalamYesus Kristus. Menurut pendapat saya, Paulus memiliki pandangan yang luas tentang hal seperti itu karakter atau milik yang paling indah dalam diri seorang Kristen pertama dan yang utama bukanlah kualitas subjektif, melainkan kenyataan objektif bahwa Yesus kristus sudah menebus mereka,itulah yang menjadi seseorang memiliki identitas sebagai orang kudus.

Identitas itu pula yang menurut hemat saya telah menjadi bukti kesetiaan Allah yang sudah memanggil jemaat-Nya.Persekutuan dengan Yesus Kristus adalah persekutuan yang kekal,yang tidak dapat dipisahkan oleh hal apapun.Didalam ketikdak terpisahan oleh kuasa apapun orang percaya diberi tugasdan tanggung jawab sebagai orang-orang yang kasih tidak ada.semua karunia tidak ada faedanya.karunia-karunia yang anggap paling supranatural sekalipun, jika tidak disertai kasih, hanya akan memperhatikan dirinya sama dengan gong yang berkumandang,canamg yang gemerincing. Maksudnya, hanya menarik perhatian tanpa makna apa-apa .Kasih adalah karunia utama yang diberikan Allah kepada setiap orang yang ada didalam Yesus Kristus.

 

3. Kesimpulan

Setelah membaca bagian ini memberi kesadaran pemahaman bahwa dalam “konsep Kekristenan”, Fredom (kebebasan) itu mempunyai batasan; dan orang percaya juga menyatakan bahwa Tuhanpun dalam kebebasan rela “membatasi” diri.sebebas-bebasnya Tuhan tetap tidak mungkin Ia berbuat dosa. Ini berarti juga Tuhan tidak menggunakan kebebasannya dalam pengertian bebas melakukan apa saja.karena Tuhan tidak mungkin melawan keAllahan-Nya, .setiap orang kristen harus percaya bahwa kebebasan ini adalah kebebasan yang rela membatasi diri bukanlah kebebasan. Orang bebas adalah mereka yang bebas membatasi diri karena kasihnya kepada orang lain.orang percaya bisa melihat teladan Yesus Kristus yang walaupun bebas, rela membatasi diri, bebas yang rela membatasi diri itulah yang dibahas dan diajarkan oleh Rasul Paulus mengenai kebebasan Kristen (Cristian Feedom). keindahan bagian ini, terungkap pada kesimpulannya, bahwa kehidupan yang dipersembahkan kepada Tuhan berhak dipimpin oleh Tuhan dengan cara bagaimanapun. Orang yang sungguh-sungguh mengasihi Tuhan adalah orang yang bersedia kehilangan haknya. Tuhan Yesus, Paulus, dan semua hamba Tuahn disepanjang sejarah telah belajar menyangkal diri. Orang percayapun punya kesempatan dan tanggung jawab iman, belajar taat dan mengajarkan bagian yang dipercaya kepada orang percaya. Kiranya Tuhan memberkati orang percaya untuk manjadi berkat bagi banyak orang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *