POSTMODERNISME DAN GENERASI MILLENNIAL

POSTMODERNISME DAN GENERASI MILLENNIAL

Oleh :

Joiman Berkat Waruwu, M.Th

(Dosen Tetap STT Bethesda)

 

Lanskap sosial dan intelektual dalam perkembangan kognitif menjadi lebih saling berhubungan dari sebelumnya dalam sejarah manusia. Ini adalah berkat sekaligus kutukan terhadap pikiran pemuda. Dari ruang perbincangan hingga profil pribadi di internet, berbagi musik dan media, disertai sifat konsumeristis, orang-orang muda dibombardir oleh sejumlah pesan yang berbeda tentang kehidupan, kebenaran, dan realitas. Postmodern bukan hanya pikiran yang secara pasif mendarah daging dalam pikiran pemuda. Mereka yang berkuasa, baik dalam pendidikan dan bisnis, yang tidak tunduk kepada Allah, adalah sangat intens dalam penggunaan metodologi mereka. Mereka penuh semangat berusaha untuk membentuk ide-ide realitas, kebenaran, dan apa yang dapat diterima secara budaya.

Tugas pertama adalah untuk memeriksa dan mengisolasi faktor utama yang mempengaruhi pemikiran orang-orang muda dalam konteks abad ke-21. Ini adalah upaya penting karena memungkinkan untuk lebih memahami kepada siapa respon Alkitab harus ditujukan. Ini adalah karya mengontekstualisasikan Injil dalam budaya. Hal ini tidak berarti upaya untuk mengubah metanarasi sejarah penebusan dengan cara apapun. Sebaliknya, usaha untuk memahami pengaruh pada pikiran pemuda membantu gereja dalam kecakapan bercerita terhadap generasi baru, mempertahankan pesan utama sementara mengontekstualisasikan sarana. Gereja harus tahu musuhnya. Pelayanan untuk pemuda oleh gereja secara keseluruhan harus rela menyelidiki ajaran dunia sehingga Tuhan dalam Alkitab dapat membawa jawaban melalui firman-Nya. Baik Nietszche, Foucault maupun Derrida adalah tiga pemikir bergaya postmodernis yang menurut penulis adalah para pencetus postmodernisme yang paling berpengaruh. Meskipun tiga pandangan dunia yang akan penulis periksa adalah kuat dalam bujuk rayunya, pada akhirnya, mereka gagal dalam ukuran yang sama dengan yang mereka mulai.

 

Kehendak untuk Berkuasa Dari Nietzsche

Gagasan Will to Power yang dikemukakan Nietzsche secara sederhana merupakanhasil kemuakannya terhadap otoritas berlebihan dari kampanye perang yang melandaEropa dan sekitarnya, juga penindasan, penjajahan, pengkotak-kotakan manusia, sampaikegagalan kekristenan yang tak mampu menyelamatkan manusia dari dekadensi.[1] Berangkat dari keinginan untuk berkuasa, Nietszche kemudian memunculkan sebuah ubermencsh (superman).[2] Bagi  Nietzsche,  manusia  unggul  adalah  manusia  yang  berkesuaian  dengan  kodratalam  dan  menjadi  lambang  manusia  yangmampu  memberi  arti  pada  hidup.  Manusia unggul   dengan   semangat   yang   hebat   berhasil memenangkan, mengembangkan kemampuan dan kemauannya untuk berkuasa dengan bebas dan maksimal. Ia merupakan potret  manusia  yang  tahu  tentang  kebenaran  dirinya  sendiri  dan  mengemudikan  sendiriserta  hidup  sendiri.  Bagi  Nietzsche,  kemanusiaan  haruslah  merupakan  usaha  yang  takhenti-hentinya  untuk  melahirkan  manusia  besar  yang  mampu  hidup  sendiri.

Menurut  Nietsche,  manusia  unggul  adalah  manusia  yangmempunyai     keberanian     untuk     memusnahkan     nilai-nilai     lama,     seperti     yangdiungkapkannya:   “siapa   pun   yang   hendak   menjadi   kreator   dalam   kebaikan   dankeburukan,  sesungguhnya,  ia  lebih  dulu  harus  menjadi  pemusnah  dan  pendobraksegala nilai.”[3]Jadi,jelaslah   bahwa   seorang   kreatorharus   berani   menyatakan   apa   yangmenurutnya  benar.

Bagi  Nietzsche,  kemanusiaan  haruslah  merupakan  usaha  yang  takhenti-hentinya  untuk  melahirkan  manusia  besar  yang  mampu  hidup  sendiri. Sebagaimana tersirat pada makna puisi yang dibuat oleh Nietzsche yang berjudul Tuhan Telah Mati Kita Semua yang Membunuhnya[4] :

Tuhan telah mati, dalam ormas yang menghancurkan diskotik

Dibinasakanlah sifat ia yang Maha Memerintah
Titahnya telah dikudeta oleh gerombolan manusia

Tuhan telah mati, oleh pedang prajurit Perang Salib
Dibinasakanlah sifat ia yang Maha Esa
Karena masing-masing kubu merasa punya Satu untuk dibela

Tuhan telah mati, oleh suasana Ramadhan di sekeliling kita
Dibinasakanlah sifat ia yang Maha Luas
Menjadi sekedar acara televisi dan korden yang menutup jendela rumah makan

Tuhan telah mati

Dibalik keegoisan hati sehari-hari

Kini yang tersisa hanya bau busuk

Dari bongkah daging dibalik tulang rusuk

O, Tuhan telah mati, kita semua yang membunuhnya!

 

Pandangan Nietzsche sangat tertanam dalam jiwa postmodern. Pada akhirnya ini menyebabkan skeptisisme pribadi dan masyarakat dengan tidak memberikan jawaban untuk kemanusiaan dalam pengalaman yang terbatas. Pertanyaan yang harus diajukan untuk orang-orang muda bukanlah suatu bukti dan pengalaman, tetapi demonstrasi total  bahwa Tuhan tidak akan membiarkan kesimpulan logis dari eksistensialisme sekuler. Ada ukuran pengalaman eksistensial secara emosional yang bisa didapat dari kedua perspektif, demonstrasi Tuhan dan eksistensialisme sekuler, tetapi hanya satu yang dapat secara logis memperhitungkan realitasnya. Meskipun Ubermensch optimis akan genderang kemenangannya, pada akhirnya ia berputar-putar di lingkaran. Jika manusia adalah tuhan, maka permainan ‘pengulangan abadi’ dari frase ‘kata siapa?’ mengarah segera kepada kelelahan dan keputusasaan. Tidak ada perbandingan yang dapat membantu manusia mengatasi keberadaannya yang terbatas atau untuk menyelamatkan dia dari kematian. Melalui  filsuf pertama yang dibahas dalam bab ini dapat terlihat bagaimana penolakan terhadap kemungkinan adanya yang absolut membatasi ruang lingkup keberadaan manusia dengan dirinya. Jika diri adalah tidak abadi dan terbatas, maka harus diragukan, apakah mungkin ia adalah dewa. Pada bagian berikutnya penulis akan menyelidiki kesimpulan logis dari keterbatasan tersebut, dimana diri dan kebenaran terlarut sekaligus.

 

 

Relativitas Diri dari Foucault

Apa yang menonjol dalam konteks saat ini adalah kemampuan untuk menyalahkan yang lain tanpa rasa tanggung jawab pribadi atau konsekuensi. Dalam postmodern sekuler, alam semesta yang absolut, tidak ada Tuhan, dan tidak ada kebenaran obyektif. Kebenaran adalah sebuah konsep yang terbatas pada ruang modernisme dan prekursornya. Tidak ada kebenaran yang universal mutlak, dan dengan demikian tidak ada ukuran yang benar yang digunakan untuk menilai baik kesalahan atau menyalahkan. Faktanya,seperti Nietzsche nyatakan, satu-satunya kebenaran adalah diri subjektif, tapi sebagian besarnya ‘kehendak untuk berkuasa’ dalam keberadaan itu beragam dan pluralistik. ‘Diri’ dari Nietzsche, dan kemudian Foucault, adalah salah satu yang terlarut menjadi pengalaman terbatas sambil berusaha untuk mengatasi kekuatan sosial dan identitas. Tapi bagaimana jika ‘kehendak untuk berkuasa’ itu sendiri hanyalah konvensi memanjakan diri? Bagaimana jika ini terimplikasi pada kehidupan, sebuah optimisme nihilistik, apakah akhirnya asumsi subjektif menjadi cara yang benar untuk hidup?

Maksud dari Foucault sangat jelas dan tajam, bahwa diri postmodern tidak didasarkan pada aturan struktur atau rangka dalam bidang sekuler, tetapi hanya kumpulan momen  yang melampaui setiap struktur tersebut. Jika Nietzsche mengumumkan ‘kematian Tuhan’ maka Foucault mengumumkan ‘kematian manusia’.[5] Manakala Nietzsche mencuri metafisika yang absolut melampaui diri di dunia, Foucault merampok ontologis dari kesamaan hak diri. Bahkan diri yang ada itu bukan titik acuan untuk pemikiran manusia atau pengetahuan. Ia meneruskan tradisi Nietzsche dengan menempatkan diri subjektif di pusat eksistensi, tapi berbeda dalam hal menunjukkan bahwa kualitas diri sendiri tidak memiliki telos nyata. Dengan demikian, sebutan yang kuat terhadap ‘kehendak untuk berkuasa’ hilang di tengah-tengah ketiadaan identitas asli atau tujuan di dalamnya. Untuk Foucault, tujuan keberadaannya bukan ‘kehendak untuk berkuasa’, tapi untuk mengatasi kekuasaan melalui pengalaman. Hal ini terjadi dengan mendorong batas-batas eksistensial sejauh apapun, bahkan sampai kematian, batas akhir.

Telah diamati sepanjang sejarah bahwa berbagai bentuk kesenangan (pleasure) tampaknya adalah hal yang mendorong orang-orang muda. Ini tumbuh subur dalam kelimpahan imperialisme media dan eksploitasi nirlaba hedonistik hari ini. Tidak pernah sebelumnya dalam sejarah bahwa orang-orang muda memiliki kesempatan untuk merangsang indera mereka, dan tidak pernah sebelumnya bahwa mereka muncul begitu cepat bosan. Perbedaan bagi orang-orang muda saat ini, yang secara filosofis diterapkan, adalah peniadaan setiap standar yang digunakan untuk memperbaiki perilaku yang mungkin atau mungkin tidak dianggap sebagai salah. Foucault adalah teladan hidup dari metode ini, perjalanan dari satu tempat ke tempat pencarian yang lebih tinggi, mencari kesempatan baru untuk menentukan moralitas. Dia terus-menerus melihat keluar untuk menemukan cara baru untuk mendorong batas keberadaannya sendiri melalui pengalaman yang mendorong batas. Tujuannya adalah untuk menantang dan melanggar semua batas struktural dalam upaya untuk melampaui struktur diri.[6]

Terlihat jelas, bahkan dari gambaran singkat ini, bahwa ajaran tersebut menentang pandangan Alkitab. Firman Allah, mengungkapkan seluruh sejarah penebusan, menunjukkan bahwa ada kebenaran obyektif, sebuah meta-narasi yang bisa diketahui. Tapi apakah terbayangkan bahwa ideologi dari Foucault sebenarnya adalah yang diajarkan dan diwariskan ke generasi muda hari ini? Pergantian melalui saluran-saluran channel yang melayani orang-orang muda atau mengunjungi situs web yang memungkinkan mereka untuk membuat dan mengukur identitas mereka sendiri, tidak sulit untuk melihat bahwa warisan Foucault hidup dalam orang muda di abad ke-21 yang sering muncul memanjakan diri dalam mendorong batas-batas. Warisan ini, dan akibatnya, adalah salah satu alasan lagi mengapa harus memahami di mana dan bagaimana pikiran remaja dibentuk, ketika berusaha untuk menjangkau mereka dengan Injil yang murni. Anggapan bahwa postmodernisme telah masuk ke dalam pikiran generasi seharusnya tidak menyebabkan degradasi pemberitaan kebenaran. Bahkan, dalam hal inilah kebenaran injil yang tepat dapat membawa tujuan yang sebenarnya, harapan nyata untuk orang muda dimana pandangan dunia telah menghasilkan kebingungan.

Pesan Injil tidak perlu perubahan, juga metode kata dan sakramen  tidak perlu disingkirkan, tapi percakapan dengan pemuda harus dibumbui dengan pemahaman konteks mereka. Pada titik ini, penulis akan memeriksa ajaran sentral dari satu filsuf postmodern. Dalam konsep ‘dekonstruksi’ dari Jacques Derrida bahwa kita dihadapkan dengan kehancuran total dari realitas. Dalam Nietzsche, dunia mutlak ditempatkan dalam ujian otonomi. Dalam Foucault, otonomi diuji dari pengalaman. Dan dalam Derrida, semua kemungkinan makna koheren dibatalkan, bahkan bahasa sekalipun, sehingga satu-satunya ‘realitas’ yang tersisa adalah kritik dan oposisi.

 

Dekonstruksi Diri dari Derrida

Dari experientialisme eksistensial ekstrim Foucault, sekarang beralih ke Filsuf Prancis Jacques Derrida (1930-2004) dan metodenya yang bergerak di luar batas modernisme dan strukturalisme, dikenal sebagai ‘dekonstruksi.’ Derrida adalah pemain kunci dalam postmodern karena beberapa alasan. Agendanya adalah untuk melemahkan modernisme dan mempertanyakan klaim kebenaran absolut dan keberadaan. Derrida telah berusaha untuk membebaskan pikiran dari ilmiah sekuler dan humanistik modernisme dengan menunjukkan akhir alamiah dalam keterbatasan. Sayangnya sebuah skeptisisme irasional adalah satu-satunya yang tersisa tanpa bahasa untuk membangun.

Catatan penulis adalah postmodernisme tidak bisa dikambing-hitamkan untuk masalah manusia. Dosalah yang bertanggung jawab untuk semua itu. Ini semua tentang keinginan untuk kebebasan dan otonomi yang telah menemukan cara baru untuk mengekspresikan diri. Sementara proyek modernisme meninggikan manusia dengan realitas objektif tuhan, postmodernisme mendekonstruksi seluruh gagasan tentang diri dengan menunjukkan bahwa perubahan sifat terbatas hanya memproduksi irasionalitas dan subjektivitas. Dalam dunia yang mendekonstruksi, tidak ada Allah, tidak ada subjek untuk kekuasaan, dan tidak ada perkembangan positif sama sekali. Ada pembongkaran besar-besaran. Postmodernisme sekuler, seperti modernisme sekuler, adalah proyek dua sisi dari dosa yang sama.

Jadi bagaimana metode ‘dekonstruksi’ bekerja? Untuk memulainya, ia mengeksploitasi interpretasinya terhadap subjektivitas dan keterbatasan bahasa. Bahasa tidak benar-benar mengarahkan atau membawa ke dalam kontak dengan yang absolut. Hal ini terbatas dan sesaat, selalu berubah dan tidak pernah mampu benar-benar mengidentifikasi manusia dengan kehadiran dari yang Absolut. Bahasa adalah tanda dan dibatasi oleh ruang dan waktu. Karena itu tidak pernah bisa sebenarnya menandakan apa yang awalnya ada. Melalui klaim Derrida terhadap proposisi kebenaran, Alkitab adalah target utama dari metodenya. Dengan demikian, melalui tren anti sejarah, postmodernisme mau mencari kebenaran-kebenaran yang terlupakan, yakni kebenaran-kebenaran yang diberangus oleh teori-teori yang kalah populer dengan teori lain.[7]

Dekonstruksi Derrida sekaligus membawa logosentrisme atau keterpusatan-kata, artinya teks yang diberi makna oleh pembaca bukan sebaliknya, memunculkan hermeneutika subjektif, menempatkan respon pembaca sebagai yang utama, bukan arti sebenarnya dari teks.[8] Terlebih lagi, pembaca diubah oleh teks. Jadi membaca teks yang sama dua kali mengungkapkan dua arti yang berbeda dan pembaca yang berbeda. Teori ini dan turunannya sangat cocok untuk budaya orang-orang muda yang muncul di daerah media MTV dan Hollywood. Tidak diperlukan adanya konsistensi dalam pesan atau motif, hanya kemampuan untuk memecahkannya yang terpisah. Derrida mengkritik modernisme dengan terus terang. Tren ini terlihat paling jelas dalam pluralisme dan toleransi tanpa uji di abad ke-21. Dalam konteks budaya hari ini, sering dilihat sebagai kejahatan karna mengambil kulit binatang sementara pemusnahan janin manusia tidak lebih sebagai kontrol kelahiran. Metanarasi, yang Derrida begitu curigakan, mungkin akan memberikan jawaban, atau pedoman terbaik, untuk menangani isu-isu moral seperti ini.

Derrida melalui metode hermeneutik tekstual ‘dekonstruksi’ telah melanda landasan cita-cita modernis tentang makna, proposisi, dan kehadiran kepenulisan.[9] Derrida telah membuat banyak kontribusi untuk proyek postmodern, tapi mungkin yang paling penting adalah menunjukkan bahwa bahasa dan teks yang berisi bahasa bukanlah media yang dapat diandalkan untuk mentransfer informasi aktual. Skeptisisme ini dan kegagalan modernitas untuk menghasilkan manusia yang lebih besar secara objektif, menjalar jauh di dalam pembuluh darah pola pikir postmodern. Dalam abad ini, hal ini ditemukan menjadi kenyataan tidak hanya dalam anti kelembagaan dan ketidakpercayaan pemuda terhadap pemerintah, tetapi juga dalam sikap anti-religius anak muda terhadap apapun yang diselenggarakan agama.

Dengan cara yang sama dimana Derrida mendekonstruksi teks, melalui kritik intratekstual, pemuda dan remaja harus dipandang sebagai tanggung jawab ekstra dari gereja. Perbedaan antara yang baik dan yang jahat adalah sebatas perbedaan mencolok antara muda dan tua. Tidak lagi diperlukan kesatuan mutlak di zaman dekonstruksi ini. Umur adalah tanda, dan itu menandakan realitas perbedaan. Profesional muda diperlukan untuk untuk melakukan pekerjaan orang tua. Di alam semesta Derrida, mitos netralitas dan kehadiran ditiadakan, tidak ada orangtua bisa berharap untuk memahami anak mereka selama tahun-tahun dekonstruksi mereka.

Masalah yang Derrida ciptakan dalam model filosofisnya telah mempengaruhi gereja lebih dalam dari yang disadari. Postmodernitas memiliki potensi untuk membawa semacam keputusasaan untuk generasi lebih tua yang masih menerima yang Absolut. Dengan memahami cara-cara pemikiran postmodern yang telah membentuk pikiran orang-orang muda, mereka yang masih berpegang pada kebenaran obyektif dan absolut memiliki kesempatan lebih besar untuk berbagi. Dengan pengalaman era modernisme yang ternyata sebagian besar gagal, pelayanan pemuda memiliki pintu yang terbuka untuk menunjukkan bagaimana kebenaran Allah menjawab kembali masalah tanpa solusi dalam dunia postmodernisme.

 

Kesimpulan

Dapatkah dikatakan, dari hati nurani yang baik dan tanpa terlalu fatalistik, bahwa pemuda abad ke-21 sebenarnya dibanjiri dengan filsafat paradigma dari Nietzsche, Foucault dan Derrida? Bukankah ini sedikit berlebihan? Bukankah segala hal masih normal, orang masih bekerja, dan dunia masih berputar pada porosnya. Menggunakan tiga filsuf dan aspek spesifik dari masing-masing bukanlah untuk menakut-nakuti generasi tua. Dalam 50 tahun terakhir dari sejarah, filsafat sekuler telah berupaya untuk melemahkan kebenaranyang penting untuk dunia Kristen, bahwa Allah adalah Allah, dan bahwa Allah telah mengungkapkan dirinya dalam cara yang dapat diandalkan melalui kata-kata dalam Alkitab. Sementara mungkin tidak setiap orang muda menyatakan diri mereka sebagai nabi yang baru dan mendorong setiap batas yang dapat dibayangkan oleh keberadaan mereka sendiri, namun produk dari pandangan dunia ini berada dimana-mana. Pandangan dunia ini mungkin paling jelas ketika gereja beraksi terhadapnya.

Sebagai orang Kristen tahu bahwa harus ada respon Alkitab terhadap spiral berpikir otonom ini. Orang Kristen tidak dapat menerima alasan atau kesimpulan dari paradigma ini dan masih harus memberitakan Injil yang benar. Namun, dalam reaksi terhadapnya haruslah berusaha untuk memahaminya, mengakui itu sebagai kritik dekonstruktif, dan harus bertanya apakah dekonstruksi benar-benar bisa membangun kembali segala sesuatu. Ini akan membuat orang percaya, seperti Yesus katakan, cerdikseperti ular dan tulus seperti merpati. Sementara  meneliti sistem kepercayaan postmodernisme, harus juga menyadari bahwa ajaran-ajarannya tidak netral. Mereka hanya menyajikan pandangan dunia (worldview), sebuah  pola kehidupan manusia yang telah banyak dikumandangkan sepanjang sejarah.

Gambaran dari presuposisi filosofis yang diuraikan dalam bab ini sangat diperlukan jika ingin bekerja menuju perubahan paradigma pelayanan dalam gereja. Karena menyangkut pikiran sekuler, yang diwarnai dengan ambiguitas postmodernisme, musuh terbesar kekristenan mungkin adalah kebenaran relatif dan subjektivitas epistemologis. Tantangan Nietzsche untuk mencerahkan pemikiran dari idealisme dan rasionalisme meninggalkan diri pada pencarian kekuasaan. Foucault mengambil satu langkah lebih jauh dari Nietzsche dan bahkan membuat lintasan eksistensial subjektif dan melampaui struktur yang dapat dikenal. Dan usaha Derrida lebih dalam ke jurang dengan membuang kemungkinan apapun yang stabil, bahkan bahasa sekalipun, untuk menggambarkan basis koheren pengetahuan.

Dapat penulis simpulkan bahwa Nietzsche tertarik pada ‘kematian Tuhan’, Foucault pada ‘kematian manusia’,dan Derrida pada ‘kematian pengetahuan’. Pemahaman terhadap filsafat Nietzsche, Foucault, dan Derrida seharusnya menginspirasi bagaimana mentrasformasi paradigma pelayanan terhadap pemuda dalam alam pikiran abad ke-21. Yang paling penting mungkin, orang Kristen dapat belajar dari tiga pemikir tersebut bahwa orang-orang muda sekarang diberikan alasan untuk latihan penuh kesenangan diri di alam eksistensi non-diri. Ini mungkin perbedaan terbesar antara era modern dan postmodern. Hal ini sekarang umum diterima oleh orang muda, mereka melakukan seperti yang diinginkan dan menanggapi kemungkinan konsekuensinya dengan kalimat skeptis, ‘kata siapa, menurut siapa?’.

[1]John Lechte, 50 Filsuf Kontemporer (Yogyakarta : Kanisius, 2001), 332.

[2]Ibid. Hlm. 333.

[3]Karl Jaspers, Nietzsche : An Introducing of The Understanding of His Philosophical Activity (Baltimore : John Hopkins University Press. 2009), 152.

[4]Setyo Wibowo, Gaya Filsafat Nietzsche (Yogyakarta : Galang Press. 2004), 283.

[5]Nanang Martono, Sosiologi Pendidikan Michel Foucault (Jakarta : Rajawali Press. 2010), 4.

[6]Scott Lash, Sosiologi Postmodernisme, (Yogyakarta : Kanisius. 2004), 94.

[7]Hipolitus Kewuel, Allah dalam Dunia Postmodern (Malang : Dioma. 2004), 91.

[8]Mudji Sutrisno, Hermeneutika Pascakolonial, (Yogyakarta : Kanisius. 2004), 159.

[9]Budi Hardiman, Melampaui Positivisme dan Modernitas (Yogyakarta : Kanisius. 2003), 175.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *